Harga Garam Naik 150 Persen Di Tebing Tinggi

TEBINGTINGGI – Harga garam beryodium sebagai pelengkap bumbu dapur di Kota Tebingtinggi mengalami kenaikan sebesar 150 persen. Hal ini sangat dikeluhkan oleh pengusaha rumah makan dan ibu-ibu rumah tangga.

 

Amin (45), Salah seorang agen penjualan garam di Jalan Gurami Kota Tebingtinggi, mengaku bahwa harga garam yang dipasok dari agen di Kota Medan jumlahnya dikurangi karena mengalami kenaikan harga. Untuk bungkus kecil sebanyak 10 bungkus, biasa dijual Rp 7.000, kini dijual kepada pengecer (toko) seharga Rp 12.000, sementara untuk harga penjualan di pasaran kepada konsumen mencapai Rp 1.500 per bungkus kecil.

 

Amin juga mengatakan, penyebab kenaikan harga garam ini tidak diketahui, tetapi menurut cerita yang beredar, kenaikan harga garam karena tidak ada panen raya dari penghasil sentra produksi garam karena intensitas curah hujan di penghasil produksi garam cukup tinggi. Sedangkan untuk kelangkaan garam di wilayah Kota Tebingtinggi, diakui Amin, tidak ada walaupun pasokan dari agen sedikit berkurang.

 

“Saat ini kami menjual garam impor dari Negara India, garamnya sedikit berbeda, tidak kasar dan seperti tepung berwarna putih dan halus, tetapi memang kandungan yodiumnya tinggi. Kami berharap pemerintah bisa kembali menormalkan harga garam kembali ke harga semula”, harapnya.

 

Salah seorang pengusaha rumah makan minang di Jalan KL Yos Sudarso Kota Tebingtinggi, Kasmiaty (49), sangat mengeluhkan kenaikan harga garam sejak seminggu belakang ini, dia mengungkapkan garam yang berada di sejumlah toko berbentuk serbuk putih seperti tepung, tetapi memang asin. Diakuinya bahwa kelangkaan garam tidak ada, tetapi harga garam bungkusan kecil yang biasa  Rp 500 per bungkus, kini menjadi Rp 1.500. “Untuk penyedap rasa, biasanya kita murah membeli garam, tapi kini mahal, kita harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bumbu dapur ini”, jelas Kasmiaty.

 

Sementara itu, salah seorang ibu rumah tangga, Suriani (45) yang ditemui di Pasar Inpres Kota Tebingtinggi mengatakan masalah kenaikan harga garam ini hendaknya bisa menjadi pengalaman bagi pemerintah, karena selama ini tidak pernah terjadi kenaikan harga garam yang mencapai 150 persen. “Bila harga garam terus naik, maka yang paling terimbas ibu rumah tangga, apalagi kita tidak mengkonsumsi garam, maka anak kita bisa kena penyakit gondokan”, cetus Suriani.

Print Friendly, PDF & Email



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »