Di Bangladesh, Gadis-gadis Remaja Rohingya Terpaksa Nikah Dini Demi Bisa Makan

HALAKKITA | DHAKA –  Di Bangladesh, gadis-gadis remaja Rohingya ternyata banyak yang terpaksa menikah di usia dini demi bisa mendapatkan makanan.

Program Pangan Dunia (WFP) PBB melaporkan bahwa semakin banyak keluarga pengungsi Rohingya yang menikahkan putri mereka yang masih berusia sangat muda.

Motifnya adalah untuk mengurangi jumlah anggota keluarga yang harus diberi makan, dikarenakan terbatasnya pasokan makanan untuk mencukupi kebutuhan seluruh anggota keluarga.

Sehingga, keluarga tersebut dapat menyimpan jatah makanan lebih banyak dan putri mereka dapat mencari jatah makanannya sendiri dengan keluarga barunya.

Namun, yang disayangkan, gadis-gadis yang dinikahkan masih berusia sangat muda, bahkan sampai 12 tahun.

“Saya belum berusia dewasa ketika saya menikah,” cerita seorang perempuan Rohingya bernama Anwara, yang menikah di usia 14 tahun.

“Waktu itu, saya belum paham soal apa yang terjadi, sebab saya lemah dan kelaparan. Saya bahkan tidak memberitahu siapapun ketika saya hamil,” katanya.

Menurut Anwara, gadis-gadis semuda itu belum paham soal kehidupan dan masa depan, apalagi berkeluarga.

“Seandainya saya bisa menghabiskan waktu lebih banyak tanpa harus mengurus anak dan suami. Pasti hidup akan lebih indah,” tutur Anwara.

Gadis Rohingya lain, Marium (14), mengatakan bahwa dirinya memutuskan untuk setuju menikah demi membebaskan ibunya dari tanggung jawab untuk menghidupinya.

“Ayah saya sudah tidak ada dan saya menjadi beban berat bagi ibu saya, jadi lebih baik saya menikah saja,” kata Marium.

“Jika ibu saya mampu untuk memberi saya makan, tentu saya akan lebih senang untuk melajang saja (sampai cukup umur),” ucapnya lagi.

Lebih dari 700 ribu warga Rohingya melarikan diri dari Myanmar sejak konflik pecah pada Oktober 2016.

Sejak konflik kembali pecah pada Agustus tahun ini, sekitar 600 ribu warga Rohingya lainnya meninggalkan Myanmar.

Lembaga-lembaga kemanusiaan di Bangladesh mengatakan remaja-remaja putri Rohingya kerap menjadi target pelecehan seksual di Rakhine, Myanmar.

Namun, di tempat-tempat pengungsian di daerah perbatasan Myanmar-Bangladesh, Cox’s Bazar, kekerasan seksual dalam bentuk pernikahan dini juga menargetkan kelompok yang sama.

 

Teks/Foto: Tribunnews.com

 

 

Print Friendly, PDF & Email



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »