Harga Minyak Dunia Tergelincir Kenaikan Produksi Amerika

HALAKKITA | JAKARTA – Harga minyak dunia tergelincir pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (5/1), waktu Amerika Serikat. Penurunan harga disebabkan oleh lonjakan produksi minyak AS seiring dengan pelemahan permintaan produk hasil penyulingan.

“Penurunan permintaan terjadi saat liburan. Ditambah dengan kembalinya produksi minyak AS, membantu untuk menahan penguatan harga baru-baru ini,” tutur John Kilduff dari Again Capital, seperti dilansir Reuters, Senin (8/1).

Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediaries (WTI) turun US$0,57 menjadi US$61,44 per barel. Satu hari sebelumnya, harga WTI menyentuh level US$62,21 per barel, tertinggi sejak Mei 2015 silam.

Penurunan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka Brent untuk Maret yang turun US$0,45 atau 0,7 persen menjadi US$67,62 per barel. Padahal, harga Brent sehari sebelumnya sempat menyentuh US$68,27 per barel, tertinggi sejak Mei 2015.

Pelaku pasar menilai tingginya tensi politik di Iran, produsen minyak terbesar ketiga di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), telah mendongkrak harga.

“Aksi protes di Iran menambah ‘bahan bakar’ ke pasar yang sudah dalam kondisi meningkat (bullish),” terang Norbert Ruecker, Kepala Riset Komoditas bank di Swiss Julius Baer.

Jumat lalu, ia melanjutkan, tidak ada aksi kekerasan yang besar di  Iran sehingga menghilangkan sebagian tensi dari pasar.

Selain itu, kesepakatan pemangkasan produksi yang dilakukan OPEC dan beberapa produsen minyak dunia, salah satunya Rusia, telah menopang harga minyak mentah dunia secara umum.

Pemangkasan sebesar 1,8 juta barel per hari (bph) telah dilakukan sejak Januari dan akan berakhir pada akhir tahun ini seiring dengan menguatnya pertumbuhan ekonomi dan pasar keuangan.

Kebijakan itu diyakini telah membantu memperketat pasar. Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), persediaan minyak mentah komersial AS turun sebesar 7 juta barel pada minggu terakhir Desember 2017 menjadi 424,5 juta barel.

Angka itu turun 20 persen dari puncaknya pada Maret 2017 lalu dan mendekati rata-rata produksi lima tahun di level 420 juta barel. Berdasarkan data terakhir, produksi minyak AS naik 9,78 juta bph pada minyak terakhir.

Jumat lalu, perusahaan layanan energi Baker Hughes menyatakan pengebor minyak AS menghentikan operasional lima kilang di AS, sehingga total rig yang beroperasi menjadi 742. Jumlah rig yang menjadi indikator produksi di masa mendatang itu jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya 529 rig yang beroperasi.

Sementara itu, produksi minyak Iran yang tak terdampak oleh aksi protes dan produksi AS kemungkinan melampaui 10 juta, mendekati level produksi Arab Saudi dan Rusia. Hal ini membuat keraguan bahwa kenaikan harga akan terjadi terus menerus.

Bank investasi asal AS, Jefferies, menyatakan harga minyak masih sulit diproyeksikan. Namun, pasar masih akan kekurangan pasokan (undersupplied) sepanjang tahun ini.

Ruecker dari Julies Baer menyatakan, proyeksi harga minyak di atas US$60 per barel merupakan proyeksi yang berlebihan.

“Gangguan produsi (di Iran) masih menjadi ancaman yang sangat jauh. Gangguan produksi di Laut Utara telah diatasi dan produksi minyak AS pada Oktober lalu telah melampaui level tertinggi di 2015 dan diperkirakan naik ke level tertinggi tahun ini,” terang dia.

 

Teks/Foto: CNNIndonesia.com

Print Friendly, PDF & Email



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »