Perbandingan Proyek Rumah DP Nol Rupiah dan Rusun Murah BUMN

HALAKKITA | JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mulai meluncurkan program DP nol rupiah melalui peletakan batu pertama proyek Klapa Village di Jakarta Timur. Sebagian proyek hunian diperuntukkan bagi program DP nol persen, dijual dengan harga Rp8,8 juta rupiah per meter persegi atau bakal berkisar Rp185 juta hingga Rp320 juta.

Tak semua hunian pada proyek Klapa Village diperuntukkan untuk program DP nol persen atau Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Dari empat tower yang dibangun, hanya satu tower yang diperuntukkan untuk program tersebut. Sisanya, akan dijual dengan skema komersial.

Program DP nol persen juga memanfaatkan subsidi pemerintah pusat dalam bentuk Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Melalui skema FLPP, masyarakat dapat memperoleh suku bunga tetap sebesar 5 persen dengan jangka waktu hingga 20 tahun. Namun, mensyaratkan DP sebesar satu persen, yang kemudian disubsidi pemerintah provinsi DKI Jakarta.

“Dalam penyusunan program kemarin, Kami memanfaatkan FLPP dari pemerintah pusat dan mengimbangi dengan program APBD,” terang Anies di Jakarta, Kamis (18/1).

Konsep proyek hunian untuk program DP nol persen sebenarnya mirip dengan proyek rumah susun (rusun) murah BUMN dengan konsep Transit Oriented Development (TOD). Kalau program DP nol persen akan dibangun di tanah-tanah milik pemprov, rusun TOD dibangun di tanah milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan mepet dengan stasiun kereta api.

Proyek Klapa Village yang akan dimanfaatkan untuk program DP nol rupiah dibangun di daerah Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Proyek tersebut tak berdekatan dengan stasiun kereta api dan belum masuk dalam rute Transjakarta.

Sementara itu, BUMN saat ini sudah melakukan groundbreaking untuk proyek rusun dekat stasiun di Stasiun Senen, Pondok China, dan Tanjung Barat. BUMN juga berencana membangun rusun di dekat Stasiun Manggarai dan Juanda.

Menteri BUMN Rini Soemarno sebelumnya menjelaskan, sekitar 30 persen dari proyek rusun dekat stasiun tersebut bakal diperuntukkan bagi MBR. Sementara itu, 70 persen lagi diperuntukkan bagi proyek komersia.

Khusus rusun untuk MBR, harga jualnya akan dipatok sekitar Rp7 juta per meter per segi. Dengan demikian, harga jual Rusun BUMN di dekat stasiun tersebut diperkirakan berkisar antara Rp200 hingga 300 juta.

Masyarakat yang ingin membeli rusun MBR dapat memanfaatkan fasilitas KPR bersubsidi dari pemerintah yang disalurkan melalui PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Melalui KPR subsidi, masyarakat dapat memperoleh suku bunga tetap 5 persen dan jangka waktu cicilan hingga 20 tahun, serta DP satu persen.

Pembelian rusun juga hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang belum pernah memiliki rumah dan memiliki penghasilan dibawah Rp7 juta.

 

Teks/Foto: CNNIndonesia.com

Print Friendly, PDF & Email



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »